Tampilkan postingan dengan label Suku di Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suku di Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Mei 2016

Tradisi Lokal Indonesia "SUKU ASMAT"

A. Profile Suku Asmat 


Suku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal di antara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.[1]
Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya diantara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Papua sendiri adalah propinsi paling timur Indonesia yang menyimpan kekayaan alam dan budaya. Dengan luas sekitar empat ratus dua puluh ribu kilometer persegi, Papua menjadi pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland. Selain luas, Papua juga berlembah, sebagian rawa- rawa dan hutan lebat. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya.
Secara umum, kondisi fisik para anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini. Suku Asmat yang berjumlah kurang lebih 65.000 jiwa dan mendiami daerah rawa-rawa di bagian selatan propinsi Irian Jaya ini merupakan salah satu suku asli Papua. Mereka hidup di desa-desa yang jumlahnya berkisar antar 35 sampai 2000 jiwa.Suku Asmat adalah salah satu suku di Papua yang memiliki kebudayaan mengukir dan memahat sejak dari masa nenek moyangnya. Berawal dari cerita legenda Fumeripits, yaitu seorang yang pandai mengukir dan memahat, yang kemudian merupakan pencipta cikal bakal manusia suku Asmat. Patung kayu hasil kerajinan mereka diakui dunia internasional sebagai hasil karya seni berkelas tinggi. Darah seni ini mengalir dengan tanpa sengaja karena dalam kehidupan sehari-hari mereka menggunakan peralatan yang berhubungan dengan kayu. 
Kehidupan modern tidak mencapai wilayah ini kecuali beberapa tahun terakhir. Sebagian besar wilayah ini masih berupa wilayah hutan lebat yang belum dirambah manusia. Meski demikian nasib para seniman sejati tak lepas dari perhatian dunia Internasional. Pada akhir tahun enam puluhan, para pemahat suku Asmat menerima bantuan dari PBB demi upaya mempertahankan kelestarian seni patung mereka. Di kota Agat anda bisa mengunjungi museum yang menampilkan koleksi patung kayu dan hasil kerajinan mereka. Konon patung bis adalah bentuk patung yang paling sakral. namun kini membuat patung bagi suku asmat tidak sekadar memenuhi panggilan tradisi. sebab hasil ukiran itu juga mereka jual kepada orang asing di saat pesta ukiran.mereka tahu hasil ukiran tangan dihargai tinggi antara Rp. 100 ribu hingga jutaan rupiah diluar Papua.[2]

B.  Adat Istiadat Suku Asmat


Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat juga mempunyai ritual atau acara-acara khusus, yaitu:
1.      Kehamilan
Selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung atau ibu mertua.
2.      Kelahiran
Tidak lama setelah kelahiran bayi dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya di beri ASI sampai berusia 2 atau 3 tahun.
3.      Pernikahan
Pernikahan berlaku bagi suku Asmat yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Jhonson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Jhonson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tingal dalam satu atap.
4.      Kematian
Bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum jasadnya dikubur. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tengah anggota keluarga yang ditinggalkan.[3]

C.  Upacara-upacara Suku Asmat

1.   Ritual Kematian
Orang Asmat tidak mengenal dalam hal mengubur mayat orang yang telah meninggal. Bagi mereka, kematian bukan hal yang alamiah. Bila seseorang tidak mati dibunuh, maka mereka percaya bahwa orang tersebut mati karena suatu sihir hitam yang kena padanya. Bayi yang baru lahir yang kemudian mati pun dianggap hal yang biasa dan mereka tidak terlalu sedih karena mereka percaya bahwa roh bayi itu ingin segera ke alam roh-roh. Sebaliknya kematian orang dewasa mendatangkan duka cita yang amat mendalam bagi masyarakat Asmat.[4]
Suku Asmat percaya bahwa kematian yang datang kecuali pada usia yang terlalu tua atau terlalu muda, adalah disebabkan oleh tindakan jahat, baik dari kekuatan magis atau tindakan kekerasan. Kepercayaan mereka mengharuskan pembalasan dendam untuk korban yang sudah meninggal. Roh leluhur, kepada siapa mereka membaktikan diri, direpresentasikan dalam ukiran kayu spektakuler di kano, tameng atau tiang kayu yang berukir figur manusia. Sampai pada akhir abad 20an, para pemuda Asmat memenuhi kewajiban dan pengabdian mereka terhadap sesama anggota, kepada leluhur dan sekaligus membuktikan kejantanan dengan membawa kepala musuh mereka, sementara bagian badannya di tawarkan untuk dimakan anggota keluarga yang lain di desa tersebut.
Apabila ada orang tua yang sakit, maka keluarga terdekat berkumpul mendekati si sakit sambil menangis sebab mereka percaya ajal akan menjemputnya. Tidak ada usaha-usaha untuk mengobati atau memberi makan kepada si sakit. Keluarga terdekat si sakit tidak berani mendekatinya karena mereka percaya si sakit akan ´membawa´ salah seorang dari yang dicintainya untuk menemani. Di sisi rumah dimana si sakit dibaringkan, dibuatkan semacam pagar dari dahan pohon nipah. Ketika diketahui bahwa si sakit meninggal maka ratapan dan tangisan menjadi-jadi. Keluarga yang ditinggalkan segera berebut memeluk sis akit dan keluar rumah mengguling-gulingkan tubuhnya di lumpur. Sementara itu, orang-orang di sekitar rumah kematian telah menutup semua lubang dan jalan masuk (kecuali jalan masuk utama) dengan maksud menghalang-halangi masuknya roh-roh jahat yang berkeliaran pada saat menjelang kematian. Orang-orang Asmat menunjukkan kesedihan dengan cara menangis setiap hari sampai berbulan-bulan, melumuri tubuhnya dengan lumpur dan mencukur habis rambutnya. Yang sudah menikah berjanji tidak akan menikah lagi (meski nantinya juga akan menikah lagi) dan menutupi kepala dan wajahnya dengan topi agar tidak menarik bagi orang lain.
Mayat orang yang telah meninggal biasa diletakkan di atas para (anyaman bambu), yang telah disediakan di luar kampung dan dibiarkan sampai busuk. Kelak, tulang belulangnya dikumpulkan dan disipan di atas pokok-pokok kayu. Tengkorak kepala diambil dan dipergunakan sebagai bantal petanda cinta kasih pada yang meninggal. Orang Asmat percaya bahwa roh-roh orang yang telah meninggal tersebut (bi) masih tetap berada di dalam kampung, terutama kalau orang itu diwujudkan dalam bentuk patung mbis, yaitu patung kayu yangtingginya 5-8 meter. Cara lain yaitu dengan meletakkan jenazah di perahu lesung panjang dengan perbekalan seperti sagu dan ulat sagu untuk kemudian dilepas di sungai dan seterusnya terbawa arus ke laut menuju peristirahatan terakhir roh-roh.
Saat ini, dengan masuknya pengaruh dari luar, orang Asmat telah mengubur jenazah dan beberapa barang milik pribadi yang meninggal. Umumnya, jenazah laki-laki dikubur tanpa menggunakan pakaian, sedangkan jenazah wanita dikubur dengan menggunakan pakaian. Orang Asmat juga tidak memiliki pemakaman umum, maka jenazah biasanya dikubur di hutan, di pinngir sungai atau semak-semak tanpa nisan. Dimana pun jenazah itu dikubur, keluarga tetap dapat menemukan kuburannya.[5]

2.   Ritual Pembuatan dan Pengukuhan Perahu Lesung
Setiap 5 tahun sekali, masyarakat Asmat membuat perahu-perahu baru.Dalam proses pembuatan prahu hingga selesai, ada berapa hal yang perlu diperhatikan. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua ujungnya, batang itu telah siap untuk diangkut ke pembuatan perahu. Sementara itu, tempat pegangan untuk menahan tali penarik dan tali kendali sudah dipersiapkan. Pantangan yang harus diperhatikan saat mengerjakan itu semua adalah tidak boleh membuat banyak bunyi-bunyian di sekitar tempa itu. Masyarakat Asmat percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak dapat dipindahkan.
Untuk menarik batang kayu, si pemilik perahu meminta bantuan kepada kerabatnya. Sebagian kecil akan mengemudi kayu di belakang dan selebihnya menarik kayu itu. Sebelumnya diadakan suatu upacara khusus yang dipimpin oleh seorang tua yang berpengaruh dalam masyarakat. Maksudnya adalah agar perahu itu nantinya akan berjalan seimbang dan lancar.
Perahu pun dicat dengan warna putih di bagian dalam dan di bagian luar berwarna merah berseling putih. Perahu juga diberi ukiran yang berbentuk keluarga yang telah meninggal atau berbentuk burung dan binatang lainnya.Setelah dicat, perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu diresmikan terlebih dahulu. Para pemilik perahu baru bersama dengan perahu masing-masing berkumpul di rumah orang yang paling berpengaruh di kampung tempat diadakannya pesta sambil mendengarkan nyanyi -nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan diri dalam perlombaan perahu. Para pendayung menghias diri dengan cat berwarna putih dan merah disertai bulu-bulu burung. Kaum anak-anak dan wanita bersorak-sorai memberikan semangat dan memeriahkan suasana. Namun, ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.
Dulu, pembuatan perahu dilaksanakan dalam rangka persiapan suatu penyerangan dan pengayauan kepala. Bila telah selesai, perahu -perahu ini dicoba menuju tempat musuh dengan maksud memanas -manasi mereka dan memancing suasana musuh agar siap berperang. Sekarang, penggunaan perahu lebih terarahkan untuk pengangkutan bahan makanan.[6]
3.    Upacara Bis
Upacara bis merupakan salah satu kejadian penting di dalam kehidupan suku Asmat sebab berhubungan dengan pengukiran patung leluhur (bis) apabila ada permintaan dalam suatu keluarga. Dulu, upacara bis ini diadakan untuk memperingati anggota keluarga yang telah mati terbunuh, dan kematian itu harus segera dibalas dengan membunuh anggota keluarga dari pihak yang membunuh.
Untuk membuat patung leleuhur atau saudara yang telah meninggal diperlukan kurang lebih 6-8 minggu. Pengukiran patung dikerjakan di dalam rumah panjang (bujang) dan selama pembuatan patung berlangsung, kaum wanita tidak diperbolehkan memasuki rumah tersebut. Dalam masa-masa pembuatan patung bis, biasanya terjadi tukar-menukar istri yang disebut dengan papis. Tindakan ini bermaksud untuk mempererat hubungan persahabatan yang sangat diperlukan pada saat tertentu, seperti peperangan. Pemilihan pasangan terjadi pada waktu upacara perang-perangan antara wanita dan pria yang diadakan tiap sore.
Upacara perang-perangan ini bermaksud untuk mengusir roh-roh jahat dan pada waktu ini, wanita berkesempatan untuk memukul pria yang dibencinya atau pernah menyakiti hatinya. Sekarang ini, karena peperangan antar clan sudah tidak ada lagi, maka upacara bis ini baru dilakukan bila terjadi mala petaka di kampung atau apabila hasil pengumpulan bahan makanan tidak mencukupi. Menurut kepercayaan, hal ini disebabkan roh-roh keluarga yang telah meninggal yang belum diantar ketempat perisitirahatan terakhir, yaitu sebuah pulau di muara sungai Sirets.
Patung bis menggambarkna rupa dari anggota keluarga yang telah meninggal. Yang satu berdiri di atas bahu yang lain bersusun dan paling utama berada di puncak bis. Setelah itu diberikan warna dan diberikan hiasan-hiasan.Usai didandani, patung bis ini diletakkan di atas suatu panggung yang dibangun dirumah panjang. Pada saat itu, keluarga yang ditinggalkan akan mengatakan bahwa pembalasan dendam telah dilaksanakan dan mereka mengharapkan agar roh-roh yang telah meninggal itu berangkat ke pulau Sirets dengan tenang. Mereka juga memohon agar keluarga yang ditinggalkan tidak diganggu dan diberikan kesuburan. Biasanya, patung bis ini kemudian ditaruh dan ditegakkan di daerah sagu hingga rusak.[7]
4.   Upacara pengukuhan dan pembuatan rumah bujang (yentpokmbu)
Orang-orang Asmat mempunyai 2 tipe rumah, yaitu rumah keluarga dan rumah bujang (je). Rumah bujang inilah yang amat penting bagi orang-orang Asmat. Rumah bujang ini dinamakan sesuai nama marga (keluarga) pemiliknya.
Rumah bujang merupakan pusat kegiatan baik yang bersifat religius maupun yang bersifat nonreligius. Suatu keluarga dapat tinggal di sana, namun apabila ada suatu penyerangan yang akan direncanakan atau upacara-upacara tertentu, wanita dan anak-anak dilarang masuk. Orang-orang Asmat melakukan upacara khusus untuk rumah bujang yang baru, yang dihadiri oleh keluarga dan kerabat. Pembuatan rumah bujang juga diikuti oleh beberapa orang dan upacara dilakukan dengan tari-tarian dan penabuhan tifa.[8]

D. Mitologi Suku Asmat

Dalam hal kepercayaan orang Asmat yakin bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam tiap hari. Menururt keyakinan orang Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan. Dalam perjalanannya turun ke hilir sampai ia tiba di tempat yang kini didiami oleh orang Asmat hilir, ia mengalami banyak petualangan. Dalam mitologi orang Asmat yang berdiam di Teluk Flaminggo misalnya, dewa itu namanya Fumeripitsy. Ketika ia berjalan dari hulu sungai ke arah laut, ia diserang oleh seekor buaya raksasa. Perahu lesung yang ditumpanginya tenggelam. Dalam perkelahian sengit yang terjadi, ia dapat membunuh si buaya, tetapi ia sendiri luka parah. Ia terbawa arus yang mendamparkannya di tepi sungai Asewetsy, desa Syuru sekarang. Untung ada seekor burung Flamingo yang merawatnya sampai ia sembuh kembali,  kemudian ia membangun rumah yew dan mengukir dua patug yang sangat indah serta membuat sebuah genderang em, yang sangat kuat bunyinya. Setelah ia selesai, ia mulai menari terus-menerus tanpa henti, dan kekuatan sakti yang keluar dari gerakannya itu memberi hidup pada kedua patung yang diukirnya. Tak lama kemudian mulailah patung-patung itu bergerak dan menari, dan mereka kemudian menjadi pasangan manusia yang pertama, yaitu nenek-moyang orang Asmat.
Orang Asmat juga percaya akan adanya kekuatan-kekuatan magis yang kebanyakan adalah dalam bentuk tabu. Banyak hal -hal yang pantang dilakukan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, seperti dalam hal pengumpulan bahan makanan seperti sagu, penangkapan ikan, dan pemburuan binatang.
Kekuatan magis ini juga dapat digunakan untuk menemukan barang yang hilang, barang curian atau pun menunjukkan si pencuri barang tersebut. Ada juga yang mempergunakan kekuatan magis ini untuk menguasai alam dan mendatangkan angin, halilintar, hujan, dan topan.[9]




[1] Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Asmat  pada tanggal 11 mei 2016.
[2] Koentjaningrat, Sejarah Teori Antropologi, ( Jakarta: UI PRESS, 1980), h. 97.
[3]  Koentjaningrat, Pokok-pokok Etnografi, ( Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 127.
[4]  Dea Sudarman, Menyingkap Budaya Suku Pedalam Irian Jaya, ( Jakarta: Delata Pamungkas, 1993), h. 35.
[5]  Dea Sudarman, Menyingkap Budaya Suku Pedalam Irian Jaya, h. 36.
[6]  Koentjaningrat, Pokok-pokok Etnografi, h. 131.
[7]  Koentjaningrat, Pokok-pokok Etnografi, h. 132.
[8]  Dea Sudarman, Menyingkap Budaya Suku Pedalam Irian Jaya, h. 39.
[9] Diakses dari http;//www.scribd.com/Suku_Asmat/5-11-2011  pada tanggal 10 mei 2016

didalam video ini ada cara pembuatan rumah Bujang suku asmat
salah satu pemakaman unik di suku asmat ialah Raja atau komandan Perang di mumikan dengan bahan-bahan tradisional tujuan memuliakan sejarah.
berbagai kesenian suku asmat ditujukan menyambut tamu , masa panen, dan penghormatan kepada roh-roh leluhur

Tradisi Lokal Indonesia "SUKU TIDUNG"


A.    Profil dan Bahasa Suku Tidung.



Suku Tidung merupakan suku yang tanah asalnya berada di bagian utara Kalimantan Timur. Suku ini juga merupakan anak negeri di Sabah, jadi merupakan suku bangsa yang terdapat di Indonesia maupun Malaysia (negeri Sabah). Suku Tidung semula memiliki kerajaan yang disebut Kerajaan Tidung, tetapi akhirnya punah karena adanya politik adu domba oleh pihak Belanda.
Bahasa Tidung dialek Tarakan merupakan bahasa Tidung yang pertengahan karena dipahami oleh semua warga suku Tidung. Beberapa kata bahasa Tidung masih memiliki kesamaan dengan bahasa Kalimantan lainnya. Kemungkinan suku Tidung masih berkerabat dengan suku Dayak rumpun Murut (suku-suku Dayak yang ada di Sabah), karena suku Tidung beragama Islam dan mengembangkan ajaran Islam sehingga tidak dianggap sebagai suku Dayak, tetapi dikategorikan suku yang berbudaya Melayu (hukum adat Melayu) seperti suku Banjar, suku Kutai dan suku Pasir. Peranan dan kedudukan Bahasa Penutur Bahasa tidung, khususnya Tidung Tarakan adalah dwibahasa. Mereka berbahasa Tidung,tetapi juga dapat berbahasa Indonesia.
Kedudukan Bahasa Tidung di dalam interaksi sosial, orang- orang tidung kelihatannya cukup kuat.Tidak ada kesan sikap rendah diri kalau mereka menggunakan bahasa Tidung baik di dalam percakapan ketika mereka sedang berbahasa lain,maupun dalam kesempatan berbicara dengan suku lain dalam bahasa Tidung. Mereka merasa bangga jika ada suku lain ikut berbicara bahasa Tidung atau mencoba-coba menggunakan bahasa tidung.

B.     Asal-Usul Suku Tidung



Asal usul Suku Tidung ini tidak diketahui secara pasti sebagaimana dilansir beberapa catatan sejarah menyebutkan suku asli Tidung berada di Kalimantan Utara yang penduduknya tinggal dibagian pesisir kemudian catatan sejarah lain mengatakan suku Tidung berasal dari Sabah,Malaysia .Sementara Tidung itu sendiri memiliki arti bukit atau tanah tinggi, itulah sebabnya orang Tidung di Sabah memiliki istilah “DAMO ANTAD DE TIDUNG” yang berarti “Kami datang dari tanah tinggi” diduga leluhur aslinya berasal dari orang-orang yang tinggal di dataran tinggi, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa asal- usul orang Tidung adalah dari Sulu – Filipina.
Perjalanan sejarah Suku Tidung ini cukup panjang diduga asal mula suku ini semula memiliki kerajaan yang disebut Kerajaan Tidung,tetapi akhirnya suku Tidung mengalami kepunahan, karena adanya politik adu domba oleh pihak pemerintah Kolonial Belanda.Sementara itu, budaya suku Tidung banyak dipengaruhi oleh budaya Melayu, namun suku Tidung ini bukanlah bagian dari suku Melayu bila melihat kuantitas budayanya.
Penelitian tentang etnik suku Tidung telah banyak dilakukan oleh sejarawan dan suku Tidung ini lebih merujuk pada rumpun suku Murut dengan sub etnik Tidung, Berusu, Tegalan, Dusun, Kadazan, Agabag.
Kaum Suku Tidung umumnya terlihat banyak mendiami kawasan pantai dan pulau-pulau, ada juga sedikit di tepian sungai-sungai di pedalaman umumnya dalam radius muaranya. Kaum suku Bulungan banyak berada di kawasan antara pedalaman dan pantai, terutama di kawasan Tanjung Palas dan Tanjung Selor. Kaum Tidung, mata pencaharian andalannya adalah sebagai Nelayan, di samping itu juga bertani dan memanfaatkan hasil hutan. Sementara itu, aktivitas orang Tidung disepanjang pesisir Kalimantan Utara terutama meramu hasil hutan, terutama burung walet, berkebun dan nelayan.
Kehidupan masyarakat suku Tidung yang menarik adalah bahasa dinamakan bahasa Tidung Penutur adalah Bahasa Tidung pada umumnya terdapat diwilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sabah Malaysia. Penutur Bahasa Tidung ini banyak digunakan di dua Kabupaten di kaltim, lima kab/kota di Kaltara dan tiga kota di negeri sabah. Sepuluh daerah tersebut adalah Kota Tarakan, Kab. Malinau, Kab. Bulungan, Kab. Nunukan, Kab. Tana Tidung, Kab. Berau, Kab. Kutai Kartanegara, Kota Tawau, Kota Sandakan dan Kota Lahad Datu.
Suku Tidung mayoritas beragama Islam dan masyarakat Tidung menutup diri dari dunia luar ,bahkan membuka diri bergaul dengan berbagai suku lain, Seperti bugis, Banjar, Jawa, Bulungan dan etnis Tionghoa.Tak heran masyarakat suku Tidung pandai berbahasa diluar Bahasa Tidung kemudian menariknya terjadi peminjaman kata daerah lain yang terserap bahasa Tidung. Hal yang sama terjadi pula dalam bahasa Indonesia dampaknya adalah terjadinya interfensi bahasa lain, khususnya bahasa Indonesia kedalam bahasa Tidung.
Suku Tidung mempunyai arsitektur bangunan yang khas yang mencerminkan keseharian suku Tidung. Rumah adat suku Tidung disebut sebagai Baloy Adat Tidoeng. Baloy Adat ini terbuat dari kayu ulin atau kayu besi yang lazim ditemukan di daerah Kalimantan. Bangunan berbentuk rumah panggung dengan ukiran yang dekat dengan seni ukir suku Dayak. Di pesisir Kalimantan bentuk rumah panggung adalah kelaziman, karena biasa didirikan di dekat pantai atau daerah rawa. Suku Tidung sendiri termasuk suku yang berbudaya bahari sehingga tak heran jika terdapat perahu di rumah-rumah Tidung.
Kota Tarakan di Pulau Tarakan didiami oleh suku asli yakni suku Tidung dan wilayah ini dikuasai Kerajaan Tidung atau disebut juga Kerajaan Tarakan yang memerintah suku Tidung.Jejak suku Tidung di Tarakan antara lain rumah adat suku Tidung yang disebut Baloy Adat Tidung adalah sebuah musuem yang menyimpan peninggalan Kerajaan Tidung. Dalam bidang seni dan budaya Kota Tarakan atau juga disebut sebagai Tanah Paguntaka ini terkenal akan Tari Jepen yang merupakan tari asli daerah Tarakan.
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak orang-orang Tidung meninggalkan kampung tua dan bermukim diwilayah baru. Tercatat beberapa kampung tua Tidung yang masih dapat ditemui sekarang ini yakni: Penagar, Menjelutung, Liyu Mayo, Sebawang, Kabiran, Sebamban, Segimbal dan Sesayap.

C.    Upacara-upacara Adat Suku Tidung

1.      Upacara Adat Besitan
Upacara adat besitan merupakan upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengobati orang yang sedang sakit. Dalam upacara besitan digunakan alat kesenian yang disebut dengan kulintangan atau sejenis gamelan, gendang, rebana, biola, dan tumpung atau suling. Kemudian di dalam acara tersebut terdapat pula orang yang disebut penyidit yaitu seseroang yang bertugas untuk melantunkan nyayian kemudian seorang yang dijadikan mediator untuk menyembuhkan dengan cara dirasuki oleh roh-roh. Setelah roh memasuki tubuh mediator terlebih dahulu roh tersebut akan menjelaskan penyakit yang diderita oleh pasien kemudian sang roh akan memberikan arahan untuk mengambil obat-obatan yang berasal dari alam seperti daun-daunan, akar-akaran dan buah-buahan yang nantinya akan dijadikan ramuan kesembuhan pasien.
A.    Upacara Iraw Tengkayu
Iraw tengkayu yang berarti pesta rakyat adalah tradisi upacara adat suku tidung yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa sukur atas hasil panen yang diperole Upacara ini dilakukan semenjak suku tidung belum mengenal islam hingga sekarang. Dalam proses perjalanannya upacara adat iraw tengkayu mengalami penyesuaian terhadap agama islam hal ini dikarenakan islam merupakan agama kepercayaan dari suku tidung. Dalam acara tersebut terdapat sebuah perahu yang disebut padaw tujuh dulung yang berarti perahu tujuh haluan. Perahu ini berbeda dengan bentuk perahu lainya dikarenakan bentuk dari ujung perahu terbagi tiga, kiri dan kanannya bertingkat dua dan tengahnya bertingkat tiga sehingga jumlah keseluruhanya tujuh yang memiliki makna jumlah hari dalam seminggu sebagai aktifitas keseharian manusia.
Kemudian warna yang terdapat pada perahu berjumlah tiga warna yaitu kuning, hijau dan merah. Warnah kuning mendominasi warna perahu dan ditempatkan paling teratas yang bermakna ditinggikan, dimuliakan dan dihormati. Sedangkan warna hijau yang bermakna agama islam dan warna merah merupakan sikap keberanian. Kemudian di tengah perahu terdapat lima tiang yang berdiri melambangkan jumlah sholat lima waktu yang diikat dengan kain yang disebut dengan pari-pari, diambil dari nama ikan pari dikarenakan sifat ikan pari yang berada didasar laut tidak mudah digerakan sehingga makna filosofisnya melambangkan keteguhan dari suku tidung.
2.      Upacara Perkawinan
Suku tidung memiliki tradisi adat perkawinan. Tradisi ini telah berjalan pada setiap generasi dari suku tidung. Prosesi dari adat perkawinan suku tidung memiliki beberapa tahap diantaranya:
a.       Ginisinis
Merupakan tahapan pertama ketika seseorang yang ingin menikah. Tahapan ini merupakan perjodohan dimana seorang pria yang dicarikan wanita yang nanti akan dijadikan istri. Pria tersebut tidak pernah melihat wanita yang dimaksud sampai nanti akan dipernalkan kepada dirinya. Peran ginisinis sangat menentukan terhadap kecocokan seorang pria dan wanita dan ketika didapatkan kecocokan maka akan berlanjut pada tahap selanjutnya.
b.      Berseruan
Setelah mendapatkan kecocokan antara pria dan wanita maka tahapan selanjut adalah beseruan yaitu prosesi lamaran yang dilakukan oleh pihak pria kepada wanita dengan cara pihak dari keluarga pria mendatangi keluarga pihak wanita dan sebelum membicarakan inti dari lamaran maka terlebih dahulu pihak pria memberikan cindra mata yang biasanya bentuk perhiasaan cincin. Pemberian cintra mata ini dinamakan buka sungut.  Ketika pemberian tersebut telah diterimah barulah pembicaraan dimulai. Selama pembicaraan tuan rumah tidak akan memberikan hidangan kepada keluarga pria kemudian ketika mendapatkan kata sepakat  barulah hidangan akan diberikan kepada keluarga pria yang menandakan lamaran diterima.
c.       Ganton de Pulut
Ganton de pulut yang berarti mengantar mas kawin. Mas kawin merupakan hasil kesepatan pada saat beseruan yang menjadi kewajiban untuk di penuhi oleh calon mempelai pria untuk diantar kerumah calon mempelai wanita.
d.      Kawin Suru
Kawin suru merupakan rangkaian acara lanjutan dari nganton de pulut dimana dalam acara ini merupakan akad nikah atau peresmian pernikahan. Di dalam acara kawin suru atau akad nikah sebelum mempelai pria masuk kedalam rumah  ia akan melakukan tradisi dimana mempelai pria diberikan dua wadah atau tempat yang satunya berisi beras berwarna kuning yang bermakna rezeki dan yang wadah satunya berisi air yang bermakna kesejukan dalam berumah tangga. Wadah yang berisi beras berwarnah kuning akan diambil segengam oleh mempelai pria untuk dicium dan memasukannya ke dalam wadah yang berisi air. Setelah prosesi itu selesai barulah mempelai pria masuk kedalam rumah untuk melakukan akad nikah. Dalam acara akad nikah dari rangkaian kawin suru, mempelai wanita tidak di perlihatkan kepada tamu undangan. Mempelai wanita berada di dalam kamar. Setelah prosesi kawin suru selesai mempelai pria akan dipertemukan kepada mempelai wanita yang diantar oleh beberapa orang tua menuju kamar mempelai yang kemudian melakukan tradisi sumbung gabol dimana kedua mempelai masuk kedalam satu sarung yang kemudian secara cepat untuk keluar dari sarung tersebut.
e.       Bepupur
Bepupur yang dilakukan di malam hari. Acara ini dilaksanakan di rumah masing-masing akan tetapi jika salah satu dari pihak mempelai berbeda kampung maka akan dilaksanakan secara bersama-sama. Acara bepupur yaitu diamana mempelai wanita dan mempelai pria di berikan pupur dingin yang dibuat oleh masing-masing keluarga yang nantinya akan saling bertukar antar kedua keluarga mempelai. Dalam prosesi acara bepupur akan diiringi dengan kesenian hadra 
f.       Selanggo
Selanggo yaitu acara ini masing mempelai di pakaikan pewarnah kuku yang berwarnah merah yang berasal dari daun-daunan.
Setelah rangkaian acara bepupur yang dilakukan pada malam hari maka keesokan harinya dilanjutkan dengan acara bebanta atau besanding. Sebelum acara besanding di mulai terlebih dahulu dilakukan acara arak- arakan dari keluarga pria menuju rumah keluarga wanita. Dalam acara arak-arakan akan diringi dengan kesenian hadra yang kemudian diacara tersebut juga akan dibawah beberapa perlengkapan yang diantaranya busak dia yang berarti bunga lilin, sedulang berupa cindra mata yang berbentuk piring, gelas, dan sendok, dan nasi pengantin. Setelah rombongan arak-arakan tiba di halaman rumah maka kesenian hadra yang menjadi pengiring berhenti, yang kemudian keluarga wanita mengutus salah satu dari pihak keluarga untuk menjemput rombongan pihak mempelai pria dengan membacakan selawat nabi dan melemparkan beras kuning yang kemudian barulah keluarga pria memasuki rumah wanita. Ketika rombongan memasuki rumah akan diringi musik kulintangan dan menyayikan lagu taliwuda yang berarti raja berangkat setelah itu mempelai pria berdiri di depan pelaminan yang disebut pagau yang kemudian akan melakukan prosesi pugau-pagau yaitu semua undangan yang hadir akan memberika hadiah berupa uang yang dimasukan kedalam tempat yang telah disediakan. Setelah itu dilanjutkan tradisi membuka tabir berupa kain yang menutupi pelaminan yang berlapis dua, setelah itu mempelai pria akan melewati satu tahap dimana wajah dari mempelai wanita tutupi dengan kipas yang dipegang oleh seseorang yang sebut ina pengantin yang nantinya akan di buka oleh mempelai pria. Setelah semua terbuka maka mempelai pria akan memegang pergelangan tangan wanita bertanda di ijinkan nya pria duduk di samping kanannya. Setelah duduk mempelai akan melakukan prosesi saling menyuap nasi pengantin yang bermakna saling berbagi kemudian meniup lilin yang bermakna masa remaja telah berkhir. Dalam acara bebanta atau besanding sesorang akan membacakan tulisan yang disebut dengan kerangan yang berisi tentang maksud dan tujuan acara serta ucapan termah kasih kepada tamu undangan yang hadir dan pihak-pihak yang membantu. Setelah pembacaan kerangan maka akan dilanjutkan dengan tarian iluk beguna sejenis tarian penghormatan yang dipersembahkan pada tamu undangan yang telah hadir.
g.      Kiwon Talulando
Kiwon talulando yang berarti malam ketiga merupakan acara lanjutan dari prosesi perkawinan. Acara ini dilakukan pada malam hari dimana akan dihadiri undangan yang kemudian di isi oleh ajara hiburan jepin sejenis tarian. Setalah undangan pulang maka akan dilanjutkan dengan acara menyayikan lagi bebalon yang dilakukan hingga pagi hari. Sementara acara menyayikan lagu bebalon barulah kedua mempelai masuk kedalam kamar dan dapat melakukan hubungan suami istri. Dalam acara kiwon telulando diadakan pula acara sedulang sebagai rangkaian di dalamnya yaitu peralatan makan akan di bersihkan dan dibagikan pada kerabat keluarga.
h.      Beniuk
beniuk ialah acara diamana pada subuh hari mempelai wanita akan dimandikan oleh beberapa orang tua yang diringi dengan music hadra. Setelah acara beniuk selesai maka dilanjutkan dengan aca betemot pada pagi hari yaitu acara ini mempelai pria akan menamatkan bacaan Al-Quran. Acara betemot tidak menjadi wajib ketika mempelai pria telah melaksanakan acara betemot Al-Quran sebelum ia menikah. Pada siang hari setelah acara betamot di lakukan maka dilanjutkan dengan acara bebaloi yaitu keluarga dari mempelai wanita akan berkunjung kerumah keluarga mempelai pria. Sesampainya dirumah keluarga pria maka kedua mempelai akan melakukan upacara yang dinamakan Kidau betuap upun lading yaitu mempelai pria akan mengijak batu, gigit pisau dan minum air putih yang bermakna keteguhan dalam menjalani keluarga.  Dan ketika acara kunjungan tersebut dilakukan, dirumah keluarga mempelai wanita diadakan acara acara pembokaran tenda-tenda dan peralatan perkawinan yang menandakan acara perkawinan telah selesai. Seni ukir juga telah dikenal oleh suku tidung yang menjadi bagian dari seni kebudayaan  foklor setengah lisan. Hasil ukiran biasanya dijadikan sebagai hiasan rumah atau menjadi motif gambar pada media lain seperti baju dan lain sebagainya. Ciri khasi dari motif ukiranya adalah dua naga yang saling berhadapan atau saling membelakangi.

D.     Adat Istiadat Suku Tidung

Adat Istiadat Suku Tidung yang menarik teradi pada bulan Safar yang terdapat dalam kalender penanggalan Hijriah (Islam), menurut kepercayaan masyarakat suku Tidung adalah bulan waktu diturunkannya malapetaka atau Bala. Jadi agar terhindar dari malapetaka atau bala, maka setiap anak dari suku Tidung yang lahir pada bulan Safar harus mengadakan tradisi betimbang sebanyak tiga kali dimana pelaksanaan tradisi betimbang adalah pada setiap bulan Safar. Tata cara pelaksana sang anak duduk di atas timbangan yang telah dibuat sedemikian rupa, sementara kitab suci Al-qur’an, sayur-sayuran, dan makanan simpan di atas timbangan lainnnya, sehingga kedudukan menjadi seimbang. Setelah itu anak diturunkan, dan diganti dengan sayur-sayuran dan buah-buahan lainnya.

ini adalah salah satu cara suku tidung mengapresiasikan rasa syukur...

tarian baloy meligau adalah salah satu tarian adat suku tidung dengan ditarikan beberapa wanita dan laki-laki ...-
salah satu upacara adat suku tidung adalah tolak bala , di acara ini ada penyembelihan kerbau
dalam video ini terdapat seseorang lelaki melakukan adat bepupur atau berbedak ....